Ceweknya Tampak Kalem Polos Ternyata Penyepong Handal - Indo18 May 2026
“Jangan pernah menilai kemampuan seseorang dari penampilannya. Kadang, yang tampak sederhana menyimpan potensi luar biasa yang hanya menunggu kesempatan untuk bersinar,” kata Siti.
Bagi para pembaca INDO18 yang masih ragu mengejar passion di luar zona nyaman, kisah Siti memberi pelajaran penting:
Di sebuah sudut gang sempit Kota Bandung, tepat di depan warung kopi susu yang selalu dipenuhi aroma karamel dan wangi roti bakar, duduk seorang mahasiswa jurusan teknik sipil bernama Rizal. Ia menunggu temannya, Dika, yang selalu terlambat karena sibuk mengerjakan tugas akhir. Bagi para pembaca INDO18 yang masih ragu mengejar
Saat ia menyesap kopi, matanya menempel pada seorang gadis yang duduk sendirian di meja sebelah. Ia memakai kaos putih polos, celana hitam lurus, dan kacamata bulat yang menambah kesan “kalem” pada penampilannya. Rambutnya diikat rapi, tidak ada aksesoris mencolok. Ia sibuk menulis sesuatu di buku catatan kulit berwarna cokelat, sesekali mengangkat kepalanya menatap orang-orang yang lewat.
Rizal, yang biasanya pemalu, tak dapat menahan rasa ingin tahunya. “Kalem banget ya,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Kayaknya orangnya sederhana, nggak ada yang menonjol‑menonjol.” Tanpa sadar, ia sudah menatap gadis itu selama hampir lima menit. Di sebuah sudut gang sempit Kota Bandung, tepat
Tiba‑tiba, seorang pria berpenampilan rapi, mengenakan jas hitam dan tas kerja, berdiri di depan meja kopi. Ia menaruh sebuah dompet tebal di kursi kosong di sebelah gadis itu dan bergegas pergi, seolah‑olah sedang menunggu seseorang.
Gadis itu menoleh, tersenyum tipis, lalu membuka dompet itu. Di dalamnya, terdapat setumpuk uang kertas, kartu identitas, dan sebuah kartu nama yang bertuliskan “PT. Securitas Prima”. Rizal menelan ludahnya. Ia tak menyangka apa yang akan terjadi selanjutnya. ia belajar menonton tutorial di YouTube
Judul: “Ceweknya Tampak Kalem, Polos, Ternyata Penyepong Handal”
Versi cerita yang diangkat dari artikel INDO18
Siti juga menekankan sustainability. Ia menggunakan bahan daur ulang, seperti kain denim bekas yang diubah menjadi tote bag, serta mengedepankan ethical production – memastikan tidak ada pekerja anak dan upah yang adil. “Kami ingin menjadi contoh bahwa fashion yang kalem sekaligus ramah lingkungan bukanlah hal yang mustahil,” ujarnya.
“Awalnya cuma buat baju teman‑teman di kampus,” ujar Siti sambil menyisir rambutnya dengan jari‑jari halus. “Tidak ada niat menjadi penjahit profesional. Itu hanya cara mengisi waktu luang dan mengurangi pengeluaran pakaian.”
Siti memulai perjalanan menjahitnya sejak usia 15 tahun, ketika ibunya menyerahkan mesin jahit tua milik kakek untuk diperbaiki. Tanpa pelatihan formal, ia belajar menonton tutorial di YouTube, meniru teknik‑teknik dasar, dan bereksperimen dengan bahan‑bahan yang ada. “Dulu saya pernah membuat baju kaos polos menjadi dress dengan detail renda buatan sendiri. Teman‑teman sangat terkesan, dan itulah titik baliknya,” katanya.